Text
Strategi dan inovasi modal bisnis meningkatkan kinerja usaha: studi empiris industri penerbangan Indonesia
Industri penerbangan terintegrasi dengan industri bandar udara (airport). Persaingan di pasar terletak pada cabang/station perusahaan. Karena itu sudah seharusnya Cabang/Station memiliki kemandirian dan kewenangan yang bersifat semi otonomi dalam mengelola produk dan pasar khususnya mulai dari pre-journey, pre-flight dan post-flight, sehingga dapat dikatakan Cabang/Station merupakan strategic business unit (SBU) Kantor pusat (head office/corporate) memiliki peran dominan.
Cabang/Station hanya sebagai pendukung dan lebih menekankan kepatuhan kebijakan penerbangan (domestik dan internasional), serta pengelolaan in-flight sebagai standarisasi pelayanan yang berkualitas. Karena itulah Dr. Laurensius mengadakan penelitian di cabang/station perusahaan penerbangan yang beroperasi pada bandar bandar udara di Indonesia.
Penelitian ini dibatasi pada perusahaan penerbangan berjadwal khususnya penumpang. Pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2008 telah meningkat sangat pesat dengan pertumbuhan rata-rata di atas 20% per-tahun (Ditjen Hubud, 2009). Beberapa perusahaan penerbangan di Indonesia dapat survive dan tumbuh berkembang.
Tetapi sebaliknya, beberapa perusahaan penerbangan Indonesia tidak dapat menikmati profitabilitas yang tinggi, bahkan tidak sedikit perusahaan penerbangan mengalami kerugian yang besar dan bahkan sulit menutup biaya operasi penerbangan untuk setiap wilayah (Ditjen Hubud, 2007). Kondisi paradoks ini merupakan fenomena unik.
Tidak tersedia versi lain